PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASIS DAN PENGEMBANGAN KEMAMPUAN GURU

Oleh : Ahmad Muqorrobin, S.Pd

Pembelajaran paradigma yang baru saat ini sangat memberikan keleluasaan bagi pendidik atau guru untuk merumuskan rancangan pembelajaran maupun asesmen sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan peserta didik. Pembelajaran paradigma baru memastikan praktik pembelajaran supaya berpusat pada peserta didik. Pembelajaran merupakan satu siklus yang berawal dari pemetaan standar kompetensi, perencanaan proses pembelajaran, dan pelaksanaan asesmen untuk memperbaiki pembelajaran sehingga peserta didik dapat mencapai kompetensi yang diharapkan (Kemdikbud, 2021). Kompetensi abad 21 disosialisasikan oleh Kemendikbud (2017) dengan sebutan 4C, yaitu keterampilan berpikir kreatif (creative thinking), berpikir kritis dan pemecahan masalah (critical thinking & problem solving), komunikasi (communication), dan kolaborasi (collaboration).

Pembelajaran berdiferensiasi merupakan suatu cara berpikir yang sangat penting tentang proses belajar mengajar pada abad ke-21 ini. Pembelajaran berdiferensiasi bukanlah hal yang baru dalam dunia pendidikan. Pembelajaran diferensiasi juga dikenal dengan istilah pembelajaran diferential. Menurut Schöllhorn (2000) pembelajaran diferensial adalah model pembelajaran motorik yang dicangkokkan pada pentingnya variabilitas gerakan dan berakar pada teori sistem dinamis gerakan manusia. Proses pembelajaran di dalam kelas juga harus didukung dengan sarana prasana yang memadai, pendekatan, model, dan metode pembelajaran yang digunakan guru harus mampu memenuhi kebutuhan dari masing-masing peserta didik. Pendidik berperan sebagai fasilitator dalam proses mencapai tujuan pendidikan. Penting bagi pendidik untuk memiliki kemampuan merancang pembelajaran, agar mampu merancang dan melaksanakan pembelajaran sesuai dengan karakteristik peserta didiknya (Kemdikbud, 2021).

Pembelajaran berdiferensiasi sejalan dengan filosofi Ki Hajar Dewantara, bahwa pendidikan memberi tuntunan terhadap segala kekuatan kodrat yang dimiliki peserta didik supaya mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya, baik sebagai seorang manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Oleh karena itu, pendidik hanya dapat menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan kodrat yang ada pada peserta didik, agar dapat memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) serta menumbuhkan kekuatan kodrat peserta didik. Dalam proses “menuntun”, peserta didik diberi kebebasan. Pendidik sebagai “pamong” dalam memberi tuntunan dan arahan agar peserta didik tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya. Seorang ‘pamong’ dapat memberikan ‘tuntunan’ agar peserta didik dapat menemukan kemerdekaannya dalam belajar.

Dengan demikian pembelajaran berdiferensiasi dirasa dan dinilai lebih menarik dibandingkan dengan pembelajaran yang lain karena dalam proses pembelajaran berdiferensiasi proses disajikan banyak media pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan gaya belajar setiap peserta didik, sehingga peserta didik lebih tertarik untuk mengikuti proses pembelajaran. Hal ini tentunya diimbangi dengan kemauan guru dalam peningkatan kreativitas dan inovasi dalam pembelajaran dikelasnya.

Pembelajaran paradigma yang baru saat ini sangat memberikan keleluasaan bagi pendidik atau guru untuk merumuskan rancangan pembelajaran maupun asesmen sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan peserta didik. Pembelajaran paradigma baru memastikan praktik pembelajaran supaya berpusat pada peserta didik. Pembelajaran merupakan satu siklus yang berawal dari pemetaan standar kompetensi, perencanaan proses pembelajaran, dan pelaksanaan asesmen untuk memperbaiki pembelajaran sehingga peserta didik dapat mencapai kompetensi yang diharapkan (Kemdikbud, 2021). Kompetensi abad 21 disosialisasikan oleh Kemendikbud (2017) dengan sebutan 4C, yaitu keterampilan berpikir kreatif (creative thinking), berpikir kritis dan pemecahan masalah (critical thinking & problem solving), komunikasi (communication), dan kolaborasi (collaboration).

Pembelajaran berdiferensiasi merupakan suatu cara berpikir yang sangat penting tentang proses belajar mengajar pada abad ke-21 ini. Pembelajaran berdiferensiasi bukanlah hal yang baru dalam dunia pendidikan. Pembelajaran diferensiasi juga dikenal dengan istilah pembelajaran diferential. Menurut Schöllhorn (2000) pembelajaran diferensial adalah model pembelajaran motorik yang dicangkokkan pada pentingnya variabilitas gerakan dan berakar pada teori sistem dinamis gerakan manusia. Proses pembelajaran di dalam kelas juga harus didukung dengan sarana prasana yang memadai, pendekatan, model, dan metode pembelajaran yang digunakan guru harus mampu memenuhi kebutuhan dari masing-masing peserta didik. Pendidik berperan sebagai fasilitator dalam proses mencapai tujuan pendidikan. Penting bagi pendidik untuk memiliki kemampuan merancang pembelajaran, agar mampu merancang dan melaksanakan pembelajaran sesuai dengan karakteristik peserta didiknya (Kemdikbud, 2021).

Pembelajaran berdiferensiasi sejalan dengan filosofi Ki Hajar Dewantara, bahwa pendidikan memberi tuntunan terhadap segala kekuatan kodrat yang dimiliki peserta didik supaya mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya, baik sebagai seorang manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Oleh karena itu, pendidik hanya dapat menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan kodrat yang ada pada peserta didik, agar dapat memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) serta menumbuhkan kekuatan kodrat peserta didik. Dalam proses “menuntun”, peserta didik diberi kebebasan. Pendidik sebagai “pamong” dalam memberi tuntunan dan arahan agar peserta didik tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya. Seorang ‘pamong’ dapat memberikan ‘tuntunan’ agar peserta didik dapat menemukan kemerdekaannya dalam belajar.

Dengan demikian pembelajaran berdiferensiasi dirasa dan dinilai lebih menarik dibandingkan dengan pembelajaran yang lain karena dalam proses pembelajaran berdiferensiasi proses disajikan banyak media pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan gaya belajar setiap peserta didik, sehingga peserta didik lebih tertarik untuk mengikuti proses pembelajaran. Hal ini tentunya diimbangi dengan kemauan guru dalam peningkatan kreativitas dan inovasi dalam pembelajaran dikelasnya.

Bagikan :

Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram
Share on whatsapp

Artikel Lainnya

Literasi Meyongsong Prestasi
Oleh Achmad Al Amin S.Pd. Literasi memiliki peran krusial dala...
Penilaian Kinerja Kepala Sekolah...
Pendahuluan Dalam era pendidikan modern, peningkatan kualitas ...
Ziarah Tradisi NU: Membangun Ked...
Pendahuluan Dalam upaya untuk memperkuat dan memelihara tradis...
Peningkatan Keterampilan dan Waw...
Pada tanggal 3 Januari 2023, SMK Walisongo Semarang melaksanak...
Menyenangkan tes ASAS SMK Waliso...
Tantangan dan Prestasi di Jurusan Teknik Jaringan dan Telekomu...
Deklarasi Sekolah Ramah Anak: Me...
Nama penulis Achmad Al Amin S.Pd. Guru SMK Walisongo Semarang ...

Hubungi kami di : 024 8417714

Kirim email ke kamiinfo@smkwalisongosmg.sch.id

Download App Sekolah

Layanan dalam satu genggaman